SUMBER DAN CARA MENDAPATKAN
KEILMUAN (EPISTEMOLOGI)
MAKALAH
Diajukan Guna Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Filsafat Ilmu tahun 2014
DISUSUN OLEH:
Harwin Arianto
Prodi Ilmu Keolahragaan
(14060484020)
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
Jl. LIDAH WETAN, SURABAYA
SURABAYA, AGUSTUS 2014
SUMBER DAN CARA MENDAPATKAN
KEILMUAN (EPISTEMOLOGI)
MAKALAH
Diajukan
Guna Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Filsafat Ilmu tahun 2014
DISUSUN
OLEH:
Harwin Arianto
Prodi Ilmu Keolahragaan
(14060484020)
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
Jl. LIDAH WETAN, SURABAYA
SURABAYA, AGUSTUS 2014
KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur saya
panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan waktu dan kesempatan
kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan karya tulis
ini dengan baik dan lancar.
Penulis menyusun karya tulis ini ditujukan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Filsafat Ilmu. Ucapan terima kasih juga saya ucapkan kepada Dosen mata kuliah Filsafat Ilmu
Tanpa dukungan dari anda, mungkin karya tulis ini tidak akan lebih baik. Untuk itu saya mengucapkan banyak terima kasih. Saya menyadari bahwa karya tulis
ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu saya tidak lupa meminta saran dan kritik yang membangun dari para pembaca
agar saya dapat memperbaiki
karya tulis ini supaya menjadi lebih baik.
Surabaya, september 2014
Penulis
Penulis
Harwin Ariant0
(14060484020)
(14060484020)
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL DALAM................................................................................
ii
KATA
PENGANTAR..............................................................................................
iii
DAFTAR ISI............................................................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang ……………………………………………………....1
1.2
Masalah……………………………………………………………....2
1.3
Tujuan………………………………………………………………..2
1.4
Manfaat……………………………………………………………....2
BAB II SUMBER DAN CARA MENDAPATKAN KEILMUAN
(EPISTEMOLOGI)
2.1
Arti Epistemologi.................................................................................. 3
2.2
Cara mendapatkan keilmuan (Epistemoogi)...................................... 3-6
2.3
Sumber keilmuan (epistemologi)..................................................... 7-10
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
3.1
Kesimpulan………………………………………………………….11
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 12
BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Manusia satu
dengan manusia yang lain hidupnya saling berdampingan, maka diperlukannya suatu
bahasa. Bahasa merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang dibuat manusia untuk
saling berkomunikasi, tanpa bahasa yang ada pada saat ini kita tidak akan
mengetahui apa yang ingin orang lain sampaikan kepada kita.
Betapa
pentingnya ilmu pengetahuan bagi manusia di dunia, sangat
Sukar untuk dibayangkan bagaimana kehidupan manusia seandainya pengetahuan itu
tidak ada, sebab pengetahuan merupakan sumber jawaban bagi berbagai pertanyaan
yang muncul dalam kehidupan.
Pada dasarnya ilmu pengetahuan
bertujuan untuk menjawab suatu jenis pertanyaan yang di ajukan. Oleh sebab itu agar kita dapat
memanfaatkan segenap pengetahuan kita secara maksimal maka harus kita ketahui
jawaban apa saja yang mungkin bisa diberikan oleh suatu pengetahuan tertentu.
Atau dengan kata lain, perlu kita ketahui kepada pengetahuan mana suatu
pertanyaan tertentu harus kita ajukan dan perlu kita ketahui juga apakah ilmu pengetahuan
itu benar atau tidak ?, sebab pengetahuan yang di kembangkan manusia selalu
berkembang atau berubah – ubah disebabkan oleh bukti pengetahuan yang
ditemukan.
Ilmu pengetahuan selalu berkembang,
maka kita perlu mengetahui sumber ilmu pengetahuan tersebut dan cara untuk
mendapatkannya. Maka dari itu saya membuat karya tulis tentang sumber dan cara
mendapatkan keilmuan, Sebab jika kita mengetahui sumber dan cara mendapatkan
ilmu pengetahuan dengan benar. Maka kita dapat memilah atau menyaring ilmu pengetahuan
dengan benar.
1.2
Tujuan
Mengetahui
sumber ilmu pengetahuan dan cara mendapat keilmuan
1.3
Masalah
Bagaimana
cara mengetahui sumber ilmu pengetahuan dan cara mendapatkan keilmuan?
1.4
Manfaat
1.4.1
Dapat
mengetahui arti dari Epistemologi
1.4.2
Untuk
mengetahui cara mendapatkan .
1.4.3
Untuk
mengetahui keilmuansumber ilmu pengetahuan.
BAB II
SUMBER DAN CARA MENDAPATKAN KEILMUAN (EPISTEMOLOGI)
SUMBER DAN CARA MENDAPATKAN KEILMUAN (EPISTEMOLOGI)
2.1
Arti
Epistemologi
Epistemologi
sebgai slah satu cabang fisafat. Kata Epitemologi jika kita lihat dari bahasa
Gerika (Yunani) “ Episteme” yang berarti pengetahuan atau knowladge, dan “Logos” yang berarti ilmu atau theory. Jadi Epistemologi
berarti ilmu atau teori tentang
pengetahuan, yakni ilmu yang membahas masalah – masalah pengetahuan. Istilah
Epistemologi banyak dipakai di negara – negara Anglo Sokson dan jarang di pakai
di negera Kontinental (Eropa).
Pada dasarnya
Epistemologi untuk mendapatkannya pasti mempunyai suatu masalah, berikut
menurut Langeveld membagi masalah – masalah pengetahuan :
a.
Kebenaran
b.
Logika
c.
Teori
pengetahuan
Dari hal ketiga
tersebut Epistemologi hanya membicarakan kebenaran dan teori pengetahuan saja,
serta alasan yang tertuju pada logika yang berobjektifitas dan ketepatan kerja akal.
Epistemologi
sebagai ilmu pengetahuan membahas sedetil – detilnya masalah untuk memperoleh
kenyataan atau realitas dan kebenaran yang hakiki, sehingga dapat
dipertanggungjawabkan secara material,
formal, dan moral.
2.2
Cara
mendapatkan keilmuan (Epistemologi)
Manusia
diciptakan sedemikian sempurnannya oleh Tuhan Yang Maha Esa. Salah satunya
adalah Panca Indera, Akal d.l.l. Manusia
adalah makhluk yang berakal, namun tidak hanya cukup dengan berakal saja yakni
harus memiliki budi pekerti yang baik. Seperti halnya kita mendapatkan ilmu
pengetahuan yang pertama merasakan adalah panca indera lalu yang dikirim dan
disimpan diakal lalu akal dan budi bersama – sama menyaring ilmu yang didapat
dengan benar yang dapat
dipertanggungjawabkan secara material, formal, dan moral. Berikut penjelasan
tentang ketiga hal tersebut :
2.2.1
Panca
Indera
Panca indera ada lima, antara lain mata, telinga,
hidung, kulit,& lidah. Dari kelima panca indera tersebut memiliki fungsi
masing – masing dimana salah satu panca indera telah melakukan fungsinya
nantinya akan berhubungan dengan otak dan sumsum tulang belakang dalam
mentransfer hasil kerjanya. Berikut saya sampaikan mengenai fungsi masing –
masing panca indera, antara lain:
1.
Mata
: untuk melihat segala keadaan
2.
Telinga : untuk mendengarkan suara
3.
Hidung : untuk mencium bebauhan
4.
Kulit : untuk merasa dan meraba
5.
Lidah : untuk merasakan makanan dan minuman
Dari fungsi panca indera diatas dapat kita ketahui.
Bilamana kita tidak dapat melihat, kita tidak akan tahu keadaan di sekeliling
kita. Bilamana kita tidak dapat mendengar, kita tidak akan tahu suara apa yang
kita dengar. Bilamana kita tidak dapat mencium bau, kita tidak akan tahu bau
apa itu?, d.l.l.
Namun panca indera tidak dapat bekerja dengan
sempurna. Bila tidak bekerja sama dengan otak dan sumsum tulang belakang kenapa
demikian, karena informasi yang didapat dari panca indera harus dikirim melalui
saraf. Berkumpulnya paling banyak saraf langsung ke otak di sumsum tulang
belakang, maka informasi tersebut dikirim melalui saraf dan saraf akan
memberikan informasi tersebut ke otak yang akan di olah oleh otak dan dapat menjadi
suatu informasi yang sempurna.
2.2.2
Akal
Dari akallah manusia dapat memunculkan ide – idenya
dengan hebat yang berupa penemuan, teori atau gagasan d.l.l. bahwa akal
memiliki sifat utama yakni kecenderungan untuk mengetahui sesuatu dengan jelas,
sampai mendapatkan kenyataan yang objektif atau disebut dengan motif-ilmiah
atau dorongan keingin tahu (human-curioousity). Akal merupakan kunci
penangkapan terhadapa realita, tempat mencamkan segala sesuatu yang
dihadapinya, membentuk pengertian serta keputusan, pada akhirnya membentuk
sebuah pemahaman dan keyakinan sebagai konklusi, sehingga membuat sebuah ilmu
pengetahuan yang objektif.
Akal juga memiliki miss dalam berfikir, sebab akal
manusia terbatas. Akal tidak dapat meraih semua peristiwa yang ada di dunia ini.
Dalam berfikir kita mencoba untuk menghindari miss dalam komunikasi atau lubang
– lubang kesesatan namun tidak dapat di pungkiri terkadang kita ketika berfikir
masuk dalam lubang kesesatan, mislanya : tidak menggunakan kata maupun istilah
yang tidak tepat, menafsirkan definisi yang tidak benar, dsb. Untuk menghindari
hal tersebut kita harus mengikuti tingkatan berfikir ilmiah dengan menggunakan
metode yang tepat pada objek yang dituju, agar kenyataan yang diperoleh dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
2.2.3
Budi
“Budhi” ialah perkataan sansekerta dan menurut
terminologi Hindu berarti Azas-Hikmah, yang mengetahui segala kenyataan tidak
dengan pandangan , melainkan dengan keinsyafan batin yang murni. Perbedaan budi
dengan akal ialah pada objek yang menjadi sasaran penyelidikan. Akal mempunyai
kekuatan berfikir secara logis, guna menyelidiki keadaan yang berjasad yang bersifat material. Budi mempunyai
kekuatan yang lebih dalam, yakni kekuasaan berfikir secara intuitif guna
menjelajah keadaan – keadaan metafisis yang berada diluar jangkauan panca
indera dan akal.
Antara budi, akal, dan panca indera yang
berkedudukan tinggi ialah budi. Budi merupakan saluran yang memberikan jalan
bagi pengetahuan Tuhan menuju akal. Budi bertugas memberikan peringatan atau petunjuk
apabila keharmonian alam dan hidup dalam keadaan terancam. Maka budi
berkedudukan dan berperan sebagai Super-Rasio.
Menurut Henri Bergson filsuf prancis (1859-1941)
sebagai tokoh aliran Intusionisme berpendapat bahwa dalam diri manusia terdapat 2 jenis tingkatan
intuitie
1.
Infra-Intelktual
: intuisi yang menyertai anasir-anasir pikiran yang masuk kedalam otak melalui
panca indera. Tingkatan ini terdapat perpaduan antara akal dan budi antara
logika dan intuitie. Golongan orang yang mempunyai intuisi yang
infra-intelektual ialah para sarjana kenamaan yang menemukan hukum-hukum alam
yang selanjutnya menjadi patokan ilmu pengetahuan modern, misal Copernicus,
Newton, Dalton, dsb.
2.
Supra-Intelektual
: intuisi yang tumbuh pada seseorang dengan tidak didahului oleh keterangan
yang logis dan tidak tergantung pada pengamatan. Intuisi ini diterima oleh budi
murni tanpa dipengaruhi oleh akal sebelumnya. Golongan intuisi yang
supra-intelektual ialah wahyu, kasyf, ilmiah,
dan ilham, misal:
a.
Para
Nabi dengan kitab-kitab sucinya
b.
Para
Wali
c.
Para
ahli filsafat yang hasil pikirannya sampai akhir jaman tetap mempunyai harga,
bahkan didalam jaman modern ini menerima dari pihak yang tidak disangka-sangka.
Seperti Vedanta dan Sankhya philosophie, filsafat dari
LaoTse dan Kong Fu Tse, dsb.
d.
Para
pujangga seperti Empu Musarrar dan R. Ng. Ronggowarsito dengan kitabnya
Joyoboyo, dsb.
e.
Para
pencipta bangunan kuno, seperti candi Borobudor, Pyramide,dsb.
f.
Para
ahli sastra, misal Franci Bacon, Dante, dsb.
g.
Para
ahli seni lukis, misal Rafael dsb.
h.
Seni
pertunjukan, misal para pencipta wayang kulit.
2.3
Sumber
keilmuan (Epistemologi)
Pada sumber
pengetahuan, ahli pikir berpendapat bahwa pengetahuan, baik pengetahuan biasa
maupun ilmu pengetahuan bersumber dari pengalaman, akal dan budi, perpaduan antara
kedua – duanya, juga bersumber dari Tuhan yang berupa wahyu. Berikut
penjelasannya:
2.3.1
Empirisme
Empirisme adalah suatu doktrin
filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan
mengecilkan peranan akal Istilah empirisme di ambil dari bahasa Yunani empeiria
yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sebagai suatu doktrin empirisme adalah
lawan dari rasionalisme. Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan tentang
kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan di peroleh atau
bersumber dari panca indera manusia, yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan
hidung. Dengan kata lain, kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan
pengalaman manusia.
Bagi kaum filsup empiris, sumber
pengetahuan satu-satunya adalah pengalaman dan pengamatan inderawi. Data dan
fakta yang ditangkap oleh panca indera kita adalah sumber pengetahuan. Semua
ide yang benar datang dari fakta ini. Sebab itu semua pengetahuan manusia
bersifat empiris.
Ajaran-ajaran pokok empirisme yaitu:
1. Pandangan bahwa semua ide atau
gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang
dialami.
2. Pengalaman inderawi adalah
satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal atau rasio.
3. Semua yang kita ketahui pada
akhirnya bergantung pada data inderawi.
4. Semua pengetahuan turun secara
langsung, atau di simpulkan secara tidak langsung dari data inderawi (kecuali
beberapa kebenaran definisional logika dan matematika).
5. Akal budi sendiri tidak dapat
memberikan kita pengetahuan tentang realitas tanpa acuan pada pengalaman
inderawi dan penggunaan panca indera kita. Akal budi mendapat tugas untuk
mengolah bahan bahan yang di peroleh dari pengalaman.
6. Empirisme sebagai filsafat
pengalaman, mengakui bahwa pengalaman sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.
Empirisme
adalah sebuah orientasi filsafat yang berhubungan dengan kemunculan ilmu
pengetahuan modern dan metode ilmiah. Empirisme menekankan bahwa ilmu
pengetahuan manusia bersifat terbatas pada apa yang dapat diamati dan diuji.
Oleh karena itu, aliran empirisme memiliki sifat kritis terhadap abstraksi dan
spekulasi dalam membangun dan memperoleh ilmu. Strategi utama pemerolehan ilmu,
dengan demikian, dilakukan dengan penerapan metode ilmiah. Para ilmuwan
berkebangsaan Inggris seperti John Locke, George Berkeley dan David Hume adalah
pendiri utama tradisi empirisme.
Sumbangan
utama dari aliran empirisme adalah lahirnya ilmu pengetahuan modern dan
penerapan metode ilmiah untuk membangun pengetahuan.
2.3.2
Rasionalisme
Rasionalisme adalah madhab filsafat ilmu yang berpandangan
bahwa rasio adalah sumber dari segala pengetahuan penyalurannya mulai panca
indera, batin lalu diolah oleh akal. Dengan demikian, kriteria kebenaran
berbasis pada intelektualitas. Strategi pengembangan ilmu model rasionalisme,
dengan demikian, adalah mengeksplorasi gagasan dengan kemampuan intelektual
manusia.
Ahmad tafsir menjelaskan bahwa Rasionalisme adalah paham
yang mengatakan bahwa akal itulah alat pencari dan pengukur pengetahuan.
Pengetahuan dicari dengan akal, temuannya diukur dengan akal pula.
Konrad Kebung,
menjelaskan bahwa Rasionalisme adalah aliran berfikir yang berpendapat bahwa
pengetahuan yang benar mengandalkan akal dan ini menjadi dasar pengetahuan
ilmiah. Mereka memandang rendah pengetahuan yang diperoleh melalui indera bukan
dalam arti menolak nilai pengalaman dan melihat pengalaman melulu sebagai
perangsang bagi akal atau pikiran. Kebenaran dan kesesatan ada dalam pikiran
kita dan bukannya pada barang yang dapat dicerap oleh indera kita. Beberapa
tokoh penting rasionalisme adalah : Plato, Descartes, Spinoza dan Leibniz.
Sumbangan rasionalisme tampak nyata dalam membangun ilmu
pengetahuan modern yang didasarkan pada kekuatan pikiran atau rasio manusia.
Hasil-hasil teknologi era industri dan era informasi tidak dapat dilepaskan
dari andil rasionalisme untuk mendorong manusia menggunakan akal pikiran dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan manusia.
2.3.3
Kritisime
Antara Empirisme dan Rasionalisme saling
bertentangan, keduanya menganggap benar. Muncullah filsuf yang bernama Immanuel
Kant (1724-1804) seorang penganut Rasionalisme, kemudian ia berkenalan dengan
filsafat Hume dan merasa pengamatan amat besar gunanya sebagai sumber
pengetahuan.
Kemudian Kant berfikir bahwa pengetahuan dipaparkan
dengan opini atau keputusan, maka Kant memaparkan sifat-sifat putusan yang
terdapat pada rangkaian subjek dan predikat dari hasil penyilidikannya.
1.
Putusan
analitik : pendapat yang predikatnya telah tercantum dengan niscaya (keharusan)
pada subjek.
2.
Putusan
sintetik : putusan/pendapat yang predikatnya memberi
suatu pengertian yang baru bagi subjek.
Pengalaman juga mempunyai aturannya, sebab
pengalaman itu terjadi bila memenuhi aturan sebagai berikut:
1)
Adanya
bentuk pengamatan (ruang dan waktu)
Adanya
objek yang kemudian disalurkan ke akal, lalu dibentuk dan diatur oleh budi kita
dalam ruang dan waktu.
2)
Pengetahuan
budi, terdapat 4 kategori:
a.
Kuantitas : kesatuan, kejamakan, &
keseluruhan
b.
Kualitas : relitas, pengingkaran &
pembatas
c.
Relasi : substansi, sebab-akibat, &
persalingan
d.
Modalitas : kemungkinan, kesungguhan, &
keharusan.
3)
Apperception
Tempat
bertemunya semua pengetahuan dan mengatur segala gejala dengan mempergunakan
kategori. Jadi setiap pengalaman terbentuk oleh ketentuan dasar tersebut dengan
cara tertentu.
BAB III
KESIMPULAN
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat saya simpulkan bahwa:
1.
Epistemologi
berarti ilmu atau teori tentang
pengetahuan, yakni ilmu yang membahas masalah – masalah pengetahuan. Masalah
pengetahuan terdiri atas kebenaran, logika, dan teori pengetahuan.
2.
Cara
mendapatkan ilmu pengetahuan melalui panca indera, akal, dan budi. Ketiganya
selalu berkontribusi dan mempunyai peranan masing – masing.
3.
Sumber
pengetahuan terdapat 3, yakni: Empirisme (pengalaman), Rasionalisme (akal), dan
kritisme (mengkritisi). Dari ketiga sumber pengetahuan tersebut antara
empirisme dan rasionalisme sebenarnya saling mendukung, untuk itu perlu adanya
perpaduan yakni dengan adanya Kritisme dapat dijadikan sumber pengetahuan yang
benar.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Made Pramono, dkk, 2005, Filsafat
Ilmu (kajian ontologi,epistemologi, dan aksiologi), Unesa University press,
Surabaya.
3.
http://erwindahapsari.blogspot.com/2012/06/pengertian-epistemologi.html

