Minggu, 26 April 2015

SUMBER DAN CARA MENDAPATKAN
 KEILMUAN (EPISTEMOLOGI)

MAKALAH
Diajukan Guna Untuk Memenuhi Tugas
 Mata Kuliah Filsafat Ilmu tahun 2014


DISUSUN OLEH:

Harwin Arianto
Prodi Ilmu Keolahragaan
(14060484020)

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
Jl. LIDAH WETAN, SURABAYA


SURABAYA, AGUSTUS 2014
SUMBER DAN CARA MENDAPATKAN
 KEILMUAN (EPISTEMOLOGI)

MAKALAH

Diajukan Guna Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Filsafat Ilmu tahun 2014













DISUSUN OLEH:

Harwin Arianto
Prodi Ilmu Keolahragaan
(14060484020)

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
Jl. LIDAH WETAN, SURABAYA


SURABAYA, AGUSTUS 2014
KATA PENGANTAR


Puja dan puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan waktu dan kesempatan kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan karya tulis ini dengan baik dan lancar.
Penulis menyusun karya tulis ini ditujukan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Filsafat Ilmu. Ucapan terima kasih juga saya ucapkan kepada Dosen mata kuliah Filsafat Ilmu
Tanpa dukungan dari anda, mungkin karya tulis ini tidak akan lebih baik. Untuk itu saya mengucapkan banyak terima kasih. Saya menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu saya tidak lupa meminta saran dan kritik yang membangun dari para pembaca agar saya dapat memperbaiki karya tulis ini supaya menjadi lebih baik.




Surabaya, september 2014
                 Penulis


Harwin Ariant0
            (14060484020)








DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL DALAM................................................................................ ii
KATA PENGANTAR.............................................................................................. iii
DAFTAR ISI............................................................................................................. iv
BAB I    PENDAHULUAN
1.1        Latar Belakang ……………………………………………………....1
1.2        Masalah……………………………………………………………....2
1.3        Tujuan………………………………………………………………..2
1.4        Manfaat……………………………………………………………....2
BAB II  SUMBER DAN CARA MENDAPATKAN KEILMUAN (EPISTEMOLOGI)
2.1 Arti Epistemologi.................................................................................. 3
2.2  Cara mendapatkan keilmuan (Epistemoogi)...................................... 3-6
2.3  Sumber keilmuan (epistemologi)..................................................... 7-10
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
3.1        Kesimpulan………………………………………………………….11

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1           Latar Belakang
Manusia satu dengan manusia yang lain hidupnya saling berdampingan, maka diperlukannya suatu bahasa. Bahasa merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang dibuat manusia untuk saling berkomunikasi, tanpa bahasa yang ada pada saat ini kita tidak akan mengetahui apa yang ingin orang lain sampaikan kepada kita.
Betapa pentingnya ilmu pengetahuan bagi manusia di dunia, sangat Sukar untuk dibayangkan bagaimana kehidupan manusia seandainya pengetahuan itu tidak ada, sebab pengetahuan merupakan sumber jawaban bagi berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan.
Pada dasarnya ilmu pengetahuan bertujuan untuk menjawab suatu jenis pertanyaan yang di ajukan. Oleh sebab itu agar kita dapat memanfaatkan segenap pengetahuan kita secara maksimal maka harus kita ketahui jawaban apa saja yang mungkin bisa diberikan oleh suatu pengetahuan tertentu. Atau dengan kata lain, perlu kita ketahui kepada pengetahuan mana suatu pertanyaan tertentu harus kita ajukan dan perlu kita ketahui juga apakah ilmu pengetahuan itu benar atau tidak ?, sebab pengetahuan yang di kembangkan manusia selalu berkembang atau berubah – ubah disebabkan oleh bukti pengetahuan yang ditemukan.
Ilmu pengetahuan selalu berkembang, maka kita perlu mengetahui sumber ilmu pengetahuan tersebut dan cara untuk mendapatkannya. Maka dari itu saya membuat karya tulis tentang sumber dan cara mendapatkan keilmuan, Sebab jika kita mengetahui sumber dan cara mendapatkan ilmu pengetahuan dengan benar. Maka kita dapat memilah atau menyaring ilmu pengetahuan dengan benar.


1.2           Tujuan
Mengetahui sumber ilmu pengetahuan dan cara mendapat keilmuan
1.3           Masalah
Bagaimana cara mengetahui sumber ilmu pengetahuan dan cara mendapatkan keilmuan?
1.4           Manfaat
1.4.1        Dapat mengetahui arti dari Epistemologi
1.4.2        Untuk mengetahui cara mendapatkan .
1.4.3        Untuk mengetahui keilmuansumber ilmu pengetahuan.

BAB II
SUMBER DAN CARA MENDAPATKAN KEILMUAN (EPISTEMOLOGI)

2.1              Arti Epistemologi
Epistemologi sebgai slah satu cabang fisafat. Kata Epitemologi jika kita lihat dari bahasa Gerika (Yunani) “ Episteme” yang berarti pengetahuan atau knowladge, dan “Logos” yang berarti ilmu atau  theory. Jadi Epistemologi berarti ilmu atau teori  tentang pengetahuan, yakni ilmu yang membahas masalah – masalah pengetahuan. Istilah Epistemologi banyak dipakai di negara – negara Anglo Sokson dan jarang di pakai di negera Kontinental (Eropa).
Pada dasarnya Epistemologi untuk mendapatkannya pasti mempunyai suatu masalah, berikut menurut Langeveld membagi masalah – masalah pengetahuan :
a.       Kebenaran
b.      Logika
c.       Teori pengetahuan
Dari hal ketiga tersebut Epistemologi hanya membicarakan kebenaran dan teori pengetahuan saja, serta alasan yang tertuju pada logika yang berobjektifitas  dan ketepatan kerja akal.
Epistemologi sebagai ilmu pengetahuan membahas sedetil – detilnya masalah untuk memperoleh kenyataan atau realitas dan kebenaran yang hakiki, sehingga dapat dipertanggungjawabkan  secara material, formal, dan  moral.
2.2              Cara mendapatkan keilmuan (Epistemologi)
Manusia diciptakan sedemikian sempurnannya oleh Tuhan Yang Maha Esa. Salah satunya adalah Panca Indera,  Akal d.l.l. Manusia adalah makhluk yang berakal, namun tidak hanya cukup dengan berakal saja yakni harus memiliki budi pekerti yang baik. Seperti halnya kita mendapatkan ilmu pengetahuan yang pertama merasakan adalah panca indera lalu yang dikirim dan disimpan diakal lalu akal dan budi bersama – sama menyaring ilmu yang didapat dengan  benar yang dapat dipertanggungjawabkan secara material, formal, dan moral. Berikut penjelasan tentang ketiga hal tersebut :
2.2.1         Panca Indera
Panca indera ada lima, antara lain mata, telinga, hidung, kulit,& lidah. Dari kelima panca indera tersebut memiliki fungsi masing – masing dimana salah satu panca indera telah melakukan fungsinya nantinya akan berhubungan dengan otak dan sumsum tulang belakang dalam mentransfer hasil kerjanya. Berikut saya sampaikan mengenai fungsi masing – masing panca indera, antara lain:
1.      Mata          : untuk melihat segala keadaan
2.      Telinga      : untuk mendengarkan suara
3.      Hidung      : untuk mencium bebauhan
4.      Kulit          : untuk merasa dan meraba
5.      Lidah         : untuk merasakan makanan dan minuman
Dari fungsi panca indera diatas dapat kita ketahui. Bilamana kita tidak dapat melihat, kita tidak akan tahu keadaan di sekeliling kita. Bilamana kita tidak dapat mendengar, kita tidak akan tahu suara apa yang kita dengar. Bilamana kita tidak dapat mencium bau, kita tidak akan tahu bau apa itu?, d.l.l.
Namun panca indera tidak dapat bekerja dengan sempurna. Bila tidak bekerja sama dengan otak dan sumsum tulang belakang kenapa demikian, karena informasi yang didapat dari panca indera harus dikirim melalui saraf. Berkumpulnya paling banyak saraf langsung ke otak di sumsum tulang belakang, maka informasi tersebut dikirim melalui saraf dan saraf akan memberikan informasi tersebut ke otak yang akan di olah oleh otak dan dapat menjadi suatu informasi yang sempurna.
2.2.2         Akal
Dari akallah manusia dapat memunculkan ide – idenya dengan hebat yang berupa penemuan, teori atau gagasan d.l.l. bahwa akal memiliki sifat utama yakni kecenderungan untuk mengetahui sesuatu dengan jelas, sampai mendapatkan kenyataan yang objektif atau disebut dengan motif-ilmiah atau dorongan keingin tahu (human-curioousity). Akal merupakan kunci penangkapan terhadapa realita, tempat mencamkan segala sesuatu yang dihadapinya, membentuk pengertian serta keputusan, pada akhirnya membentuk sebuah pemahaman dan keyakinan sebagai konklusi, sehingga membuat sebuah ilmu pengetahuan yang objektif.
Akal juga memiliki miss dalam berfikir, sebab akal manusia terbatas. Akal tidak dapat meraih semua peristiwa yang ada di dunia ini. Dalam berfikir kita mencoba untuk menghindari miss dalam komunikasi atau lubang – lubang kesesatan namun tidak dapat di pungkiri terkadang kita ketika berfikir masuk dalam lubang kesesatan, mislanya : tidak menggunakan kata maupun istilah yang tidak tepat, menafsirkan definisi yang tidak benar, dsb. Untuk menghindari hal tersebut kita harus mengikuti tingkatan berfikir ilmiah dengan menggunakan metode yang tepat pada objek yang dituju, agar kenyataan yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
2.2.3         Budi
“Budhi” ialah perkataan sansekerta dan menurut terminologi Hindu berarti Azas-Hikmah, yang mengetahui segala kenyataan tidak dengan pandangan , melainkan dengan keinsyafan batin yang murni. Perbedaan budi dengan akal ialah pada objek yang menjadi sasaran penyelidikan. Akal mempunyai kekuatan berfikir secara logis, guna menyelidiki keadaan yang berjasad  yang bersifat material. Budi mempunyai kekuatan yang lebih dalam, yakni kekuasaan berfikir secara intuitif guna menjelajah keadaan – keadaan metafisis yang berada diluar jangkauan panca indera dan akal.
Antara budi, akal, dan panca indera yang berkedudukan tinggi ialah budi. Budi merupakan saluran yang memberikan jalan bagi pengetahuan Tuhan menuju akal. Budi bertugas memberikan peringatan atau petunjuk apabila keharmonian alam dan hidup dalam keadaan terancam. Maka budi berkedudukan dan berperan sebagai Super-Rasio.
Menurut Henri Bergson filsuf prancis (1859-1941) sebagai tokoh aliran Intusionisme berpendapat bahwa  dalam diri manusia terdapat 2 jenis tingkatan intuitie
1.      Infra-Intelktual : intuisi yang menyertai anasir-anasir pikiran yang masuk kedalam otak melalui panca indera. Tingkatan ini terdapat perpaduan antara akal dan budi antara logika dan intuitie. Golongan orang yang mempunyai intuisi yang infra-intelektual ialah para sarjana kenamaan yang menemukan hukum-hukum alam yang selanjutnya menjadi patokan ilmu pengetahuan modern, misal Copernicus, Newton, Dalton, dsb.
2.      Supra-Intelektual : intuisi yang tumbuh pada seseorang dengan tidak didahului oleh keterangan yang logis dan tidak tergantung pada pengamatan. Intuisi ini diterima oleh budi murni tanpa dipengaruhi oleh akal sebelumnya. Golongan intuisi yang supra-intelektual ialah wahyu, kasyf, ilmiah, dan ilham, misal:
a.       Para Nabi dengan kitab-kitab sucinya
b.      Para Wali
c.       Para ahli filsafat yang hasil pikirannya sampai akhir jaman tetap mempunyai harga, bahkan didalam jaman modern ini menerima dari pihak yang tidak disangka-sangka. Seperti Vedanta dan Sankhya philosophie, filsafat dari LaoTse dan Kong Fu Tse, dsb.
d.      Para pujangga seperti Empu Musarrar dan R. Ng. Ronggowarsito dengan kitabnya Joyoboyo, dsb.
e.       Para pencipta bangunan kuno, seperti candi Borobudor, Pyramide,dsb.
f.       Para ahli sastra, misal Franci Bacon, Dante, dsb.
g.      Para ahli seni lukis, misal Rafael dsb.
h.      Seni pertunjukan, misal para pencipta wayang kulit.



2.3              Sumber keilmuan (Epistemologi)
Pada sumber pengetahuan, ahli pikir berpendapat bahwa pengetahuan, baik pengetahuan biasa maupun ilmu pengetahuan bersumber dari pengalaman, akal dan budi, perpaduan antara kedua – duanya, juga bersumber dari Tuhan yang berupa wahyu. Berikut penjelasannya:
2.3.1         Empirisme
Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal Istilah empirisme di ambil dari bahasa Yunani empeiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sebagai suatu doktrin empirisme adalah lawan dari rasionalisme. Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan tentang kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan di peroleh atau bersumber dari panca indera manusia, yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan hidung. Dengan kata lain, kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan pengalaman manusia.
Bagi kaum filsup empiris, sumber pengetahuan satu-satunya adalah pengalaman dan pengamatan inderawi. Data dan fakta yang ditangkap oleh panca indera kita adalah sumber pengetahuan. Semua ide yang benar datang dari fakta ini. Sebab itu semua pengetahuan manusia bersifat empiris.
Ajaran-ajaran pokok empirisme yaitu:
1.      Pandangan bahwa semua ide atau gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami.
2.      Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal atau rasio.
3.      Semua yang kita ketahui pada akhirnya bergantung pada data inderawi.
4.      Semua pengetahuan turun secara langsung, atau di simpulkan secara tidak langsung dari data inderawi (kecuali beberapa kebenaran definisional logika dan matematika).
5.      Akal budi sendiri tidak dapat memberikan kita pengetahuan tentang realitas tanpa acuan pada pengalaman inderawi dan penggunaan panca indera kita. Akal budi mendapat tugas untuk mengolah bahan bahan yang di peroleh dari pengalaman.
6.      Empirisme sebagai filsafat pengalaman, mengakui bahwa pengalaman sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.
Empirisme adalah sebuah orientasi filsafat yang berhubungan dengan kemunculan ilmu pengetahuan modern dan metode ilmiah. Empirisme menekankan bahwa ilmu pengetahuan manusia bersifat terbatas pada apa yang dapat diamati dan diuji. Oleh karena itu, aliran empirisme memiliki sifat kritis terhadap abstraksi dan spekulasi dalam membangun dan memperoleh ilmu. Strategi utama pemerolehan ilmu, dengan demikian, dilakukan dengan penerapan metode ilmiah. Para ilmuwan berkebangsaan Inggris seperti John Locke, George Berkeley dan David Hume adalah pendiri utama tradisi empirisme.
Sumbangan utama dari aliran empirisme adalah lahirnya ilmu pengetahuan modern dan penerapan metode ilmiah untuk membangun pengetahuan.
2.3.2         Rasionalisme
Rasionalisme adalah madhab filsafat ilmu yang berpandangan bahwa rasio adalah sumber dari segala pengetahuan penyalurannya mulai panca indera, batin lalu diolah oleh akal. Dengan demikian, kriteria kebenaran berbasis pada intelektualitas. Strategi pengembangan ilmu model rasionalisme, dengan demikian, adalah mengeksplorasi gagasan dengan kemampuan intelektual manusia.
Ahmad tafsir menjelaskan bahwa Rasionalisme adalah paham yang mengatakan bahwa akal itulah alat pencari dan pengukur pengetahuan. Pengetahuan dicari dengan akal, temuannya diukur dengan akal pula.
Konrad Kebung, menjelaskan bahwa Rasionalisme adalah aliran berfikir yang berpendapat bahwa pengetahuan yang benar mengandalkan akal dan ini menjadi dasar pengetahuan ilmiah. Mereka memandang rendah pengetahuan yang diperoleh melalui indera bukan dalam arti menolak nilai pengalaman dan melihat pengalaman melulu sebagai perangsang bagi akal atau pikiran. Kebenaran dan kesesatan ada dalam pikiran kita dan bukannya pada barang yang dapat dicerap oleh indera kita. Beberapa tokoh penting rasionalisme adalah : Plato, Descartes, Spinoza dan Leibniz.
Sumbangan rasionalisme tampak nyata dalam membangun ilmu pengetahuan modern yang didasarkan pada kekuatan pikiran atau rasio manusia. Hasil-hasil teknologi era industri dan era informasi tidak dapat dilepaskan dari andil rasionalisme untuk mendorong manusia menggunakan akal pikiran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan manusia.
2.3.3         Kritisime
Antara Empirisme dan Rasionalisme saling bertentangan, keduanya menganggap benar. Muncullah filsuf yang bernama Immanuel Kant (1724-1804) seorang penganut Rasionalisme, kemudian ia berkenalan dengan filsafat Hume dan merasa pengamatan amat besar gunanya sebagai sumber pengetahuan.
Kemudian Kant berfikir bahwa pengetahuan dipaparkan dengan opini atau keputusan, maka Kant memaparkan sifat-sifat putusan yang terdapat pada rangkaian subjek dan predikat dari hasil penyilidikannya.
1.      Putusan analitik : pendapat yang predikatnya telah tercantum dengan niscaya (keharusan) pada subjek.
2.      Putusan sintetik       : putusan/pendapat yang predikatnya memberi suatu pengertian yang baru bagi subjek.
Pengalaman juga mempunyai aturannya, sebab pengalaman itu terjadi bila memenuhi aturan sebagai berikut:
1)      Adanya bentuk pengamatan (ruang dan waktu)
Adanya objek yang kemudian disalurkan ke akal, lalu dibentuk dan diatur oleh budi kita dalam ruang dan waktu.
2)      Pengetahuan budi, terdapat 4 kategori:
a.       Kuantitas         : kesatuan, kejamakan, & keseluruhan
b.      Kualitas           : relitas, pengingkaran & pembatas
c.       Relasi              : substansi, sebab-akibat, & persalingan
d.      Modalitas        : kemungkinan, kesungguhan, & keharusan.



3)      Apperception
Tempat bertemunya semua pengetahuan dan mengatur segala gejala dengan mempergunakan kategori. Jadi setiap pengalaman terbentuk oleh ketentuan dasar tersebut dengan cara tertentu.

BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas dapat saya simpulkan bahwa:
1.      Epistemologi berarti ilmu atau teori  tentang pengetahuan, yakni ilmu yang membahas masalah – masalah pengetahuan. Masalah pengetahuan terdiri atas kebenaran, logika, dan teori pengetahuan.
2.      Cara mendapatkan ilmu pengetahuan melalui panca indera, akal, dan budi. Ketiganya selalu berkontribusi dan mempunyai peranan masing – masing.
3.      Sumber pengetahuan terdapat 3, yakni: Empirisme (pengalaman), Rasionalisme (akal), dan kritisme (mengkritisi). Dari ketiga sumber pengetahuan tersebut antara empirisme dan rasionalisme sebenarnya saling mendukung, untuk itu perlu adanya perpaduan yakni dengan adanya Kritisme dapat dijadikan sumber pengetahuan yang benar.

DAFTAR PUSTAKA

1.      Made Pramono, dkk, 2005, Filsafat Ilmu (kajian ontologi,epistemologi, dan aksiologi), Unesa University press, Surabaya.
3.      http://erwindahapsari.blogspot.com/2012/06/pengertian-epistemologi.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar